Ekstrak Daun Pepaya Pencegah Kanker

Berbagai pengobatan alami diklaim bisa melawan sel-sel kanker. Peneliti menemukan ekstrak daun pepaya bisa efektif melawan berbagai tumor dan menjadi pengobatan tradisional.
Peneliti Nam Dang dari University of Florida dan rekannya dari Jepang mendokumentasikan efek anti kanker dari pepaya terhadap tumor leher rahim, payudara, hati dan pankreas. Laporan penelitian ini juga telah dipublikasikan dalamJournal of Ethnopharmacology.
Para peneliti menggunakan ekstrak yang dibuat dari daun pepaya kering dan ternyata efek yang dihasilkan bisa lebih kuat. Dang dan ilmuwan lainnya menunjukkan bahwa ekstrak daun pepaya bisa meningkatkan produksi molekul sinyal kunci yang disebut sitokin tipe Th1, molekul ini membantu mengatur sistem kekebalan tubuh.
Para ilmuwan menuturkan bahwa ekstrak daun pepaya tidak memiliki efek toksik terhadap sel normal, hal ini tentu saja dapat menghindari efek samping yang umumnya selalu timbul pada beberapa pengobatan kanker.
Peneliti menggunakan 10 tipe sel kanker yang berbeda dengan variasi 4 ekstrak daun pepaya dan mengukur efeknya setelah diberikan ekstrak daun pepaya selama 24 jam. Hasil yang ditemukan menunjukkan ekstrak daun pepaya ini bisa memperlambat pertumbuhan sel kanker pada semua medium yang berbeda.
Hasil penelitian masih membutuhkan waktu yang panjang dan tentunya akan lebih dikembangkan hingga bisa dilakukan uji klinis terhadap hewan percobaan yang nantinya dapat diujicobakan pada manusia. Jika penelitian ini berhasil, maka akan tercipta suatu pengobatan baru untuk melawan sel kanker dengan menggunakan bahan tradisional.

Iklan

Cara kerja VW TSI

Inilah teknologi mesin kebanggaan baru Volkswagen, yaitu TSI. Kepanjangannya,Twincharged Stratified Injection. Mesin berbahan bakar bensin ini telah mendapatkan penghargaan sebagai sebagai “Best New Engine of 2006” pada “2006 International Engine of Year Awards”.

Kehebatannya, untuk mesin 1,4 liter, 4 silinder mampu menghasilkan tenaga 170 PS (125 kW). Sama dengan kemampuan mesin 2,3 liter tanpa turbo.

Tak kalah menarik, torsi yang dihasilkan diperoleh pada putaran rendah danflat, yaitu 240Nm @1.750 -4.500 rpm. Performa terakhir ini sebelumnya cuma bisa dihasilkan oleh mesin diesel. Padahal, suara dan getarannya lebih rendah. Karena itu, wajar mesin ini mendapatkan penghargaan dan VW pun sangat membanggakannya.
Irit & Kuat. TSI diciptakan WV untuk mengirit konsumsi bahan bakar. Teknologi ini juga efektif memperkecil ukuran mesin, sekaligus meningkatkan efisiensi kerja. Pasalnya, kendala yang selama ini ditemui pada turbocharger dengan TSI bisa dihilangkan.

Dengan mesin berukuran lebih kecil, gesekan sesama komponennya jadi lebih rendah. Sementara dengan memaksa udara disedot ke dalam mesin, efisiensi kerja makin tinggi. Dengan kapasitas mesin yang relatif kecil, tenaga yang dihasilkan pun besar.

Untuk ini, tak hanya turbocharger yang digunakan, juga supecharger. Keduanya bekerja secara hibrida, saling mendukung sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Sebagai tambahan, sumber energinya, bensin, dipasok dengan menyemprotkan secara langsung ke dalam mesin. Kombinasi ini menghasilkan performa seperti yang telah dijelaskan di atas.
Supercharger. Supercharger – tipe kompresor ulir – selama ini umumnya digunakan pada mesin-mesin kecil. Tugasnya, menyedot udara dari luar untuk dipaksa masuk ke dalam mesin.

Kelemahan supercharger dibandingkan denga turbocharger, untuk menggerakkannya diperlukan tenaga yang diambil langsung mesin. Sedangkan turbocharger bekerja dengan memanfaatkan gas buang yang keluar dari mesin.

Pada TSI, supercharger hanya ditugaskan untuk memaksa udara masuk ke mesin pada putaran rendah sampai 2.400rpm. Setelah itu tugasnya diperingan karena turbocharger mulai bekerja. Pada 3.500 rpm, supecharger benar-benar non-aktif, tugas menyedot diambil alih oleh turbocharger.

Dengan cara ini, saat kendaraan mulai digeber dari awal (berhenti), supercharger langsung bekerja memaksa udara masuk ke dalam mesin. Turbocharger tidak bisa melakukan hal ini. Pasalnya, tekanan gas buang untuk mengaktifkan turbocharger belum cukup kuat pada putaran rendah. Kerja turbo jadi lambat atau disebut “turbo lag”. Kondisi seperti ini, tidak cocok untuk mesin yang harus sering digunakan pada putaran rendah. Misalnya, saat macet. Nah, pada TSI, tugas seperti ini menjadi tanggung jawab supercharger.
Turbocharger. Turbocharger, untuk menggerakkannya, tidak memerlukan tenaga dari mesin. Turbinnya diputar oleh gas buang  yang keluar dari mesin.  Makin tinggi putaran mesin, maka besar tenaga dan aliran gas buang yang keluar dari mesin. Gas buang inilah yang dimanfaatkan untuk menggerakkan turbocharger.

Turbocharger baru bekerja secara efektif setelah 3.500rpm.  Selanjutnya tekanan udara dijaga maksimum 2,5 bar.

Kedua “pemaksa” ini bekerja secara bergantian. Agar efisien, pada putaran tinggi, supercharger diputuskan hubungannya dari mesin. Tetapi bila putaran mesin turun, supercharger secara otomatis aktif lagi. Untuk ini, supercharger dilengkapi dengan magnetik kopling, mirip dengan yang digunakan pada kompresor AC agar gampang dimati-hidupkan.

Perpindahan kerja dari supercharger ke turbocharger dibuat semulus mungkin.  Untuk ini, sistem saluran udara ke supecharger dan turbocharger dilengkapi dengan flap atau katup. Saat transisi, turbo dan supercharger bekerja secara bersamaan namun tidak dalam kondisi maksimal.

Agar efisien, supercharger tidak boleh selalu berhubungan dengan mesin. Pada saat tidak digunakan, supercharger, bebas dari pengaruh mesin. Untuk ini, VW melengkapi supercharger dengan magnetik switch. Mirip dengan kompresor AC.

Pengisian seperti ini disebut jugatwincharged. Bisa pula disebutstratified chargedkarena pemaksaan udara masuk ke dalam mesin dilakukan secara bertahap.
Hibrida Seri. Supercharger dan turbocharger pada mesin TSI bekerja secara hibrida seri. Pada putaran rendah, udara yang dipaksa masuk ke dalam mesin oleh supecharger, tetap  harus melalui turbocharger dan intercooler. Intercooler digunakan untuk mendinginkan udara yang dipaksa masuk agar suhunya tidak terlalu tinggi di dalam mesin.

Cara kerja inilah yang membedakan sistem twinchargeddengan bi-turbo. Pada bi-turbo, masing-masing turbocharger digunakan untuk memasok udara pada barisan silinder yang berbeda.

Pada putaran tinggi, udara dari luar langsung menuju turbocharger dan tidak lagi lewat supercharger atau kompresor. Hal ini bisa dilakukan karena flap atau katup pada saluran bypass membuka penuh.

Pada saat transisi, katup flap membuka separo. Turbocharger mulai bekerja namun masih dibantu oleh supercharger untuk mencegah terjadinya gejala keterlambatan (lag).

Dengan tugas khusus supercharger pada putaran rendah dan turbocharger di putaran sedang dan tinggi, mesin benar-benar fleksibel. Selain bisa diajak santai karena torsi diperoleh pada putaran rendah dan rata (flat), juga bisa dikebut.

Torsi yang diperoleh pada putaran rendah dan flat, membuat mesin sangat cocok untuk kondisi operasional “stop and go” atau lalu lintas macet berat seperti di Jakarta. Di samping itu, karena pada putaran rendah torsi sudah diperoleh, konsumsi bahan bakar menjadi irit. Karena itu, pantas, TSI kini sangat dibanggakan oleh VW. Maklum, sekarang makin banyak konsumen cari mobil yang irit.

Agar mesin bekerja semakin hebat, untuk memasok bahan bakar digunakan injeksi langsung. Tipe injektor juga diperbaiki, yaitu injeksi tekanan tinggi 6-lubang. Pengabutan berjalan lebih baik karena bensin disemprotkan pada tekanan 150 bar. Perbandingan kompresi pun tetap tinggi(10:1) kendati menggunakan turbocharger.

Semua kombinasi tersebut, membuat mesin FSI jadi hebat. Meski begitu, konstruksi mesin makin rumit. Kemungkinan gangguan juga lebih besar. Perawatan juga memerlukan perhatian lebih serius. Jadi, ada imbalan yang diminta dari sebuah nilai tambah!

Mini MPV ‘Suzuki Splash’

Tujuh tahun, sebuah proses perjalanan panjang menciptakan Suzuki Splash yang kini siap meramaikan pasar otomotif di Indonesia. Mobil yang diproduksi di Hongaria dan India ini masuk dalam kategori multi-purpose vehicle(MPV) subkompak.

Mobil yang dimasukkan secara utuh itu diperkirakan akan laku terjual sebanyak 800 unit per bulan, atau hampir 10.000 unit per tahun.

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyebutkan, penjualan Suzuki per Januari 2010 mencapai 4.815 unit, meningkat dibandingkan dengan bulan Januari 2009 sebanyak 4.267 unit. Dengan kontribusi penjualan Splash, Suzuki yakin penjualan semua produknya pada bulan Januari 2010 itu mencapai 5.502 unit.

Sejarah Splash

Seluk-beluk tujuh tahun menciptakan Suzuki Splash memiliki kisah tersendiri. General Manager PT Indomobil Suzuki International Johannes Saragih mengungkapkan, tahun 2003, Kepala Desainer Suzuki Akira Kamio mulai mengembangkan desain maupun styling Splash, dengan mulai menganalisa karakter-karakter yang diperlukan bagi mobil mini-MPV Eropa mendatang.

Setahun berikutnya, tim desain Suzuki dari Jepang yang terdiri dari 10 orang diutus pergi ke Jerman untuk menganalisa tren mobil Eropa, termasuk perkembangan mode, gaya hidup, dan desain.

Lalu, akhir September 2006, proyek Splash untuk pertama kali diperkenalkan di Mondial de L’Automobile Show di Paris dan produksi massalnya diluncurkan di Frankfurt Motor Show tahun 2007. Kemudian, mulailah dipasarkan pertama kali di Eropa dan Jepang tahun 2008. Di India, mobil ini diberi nama Ritz pada tahun 2009.

Jadi, Splash boleh dibilang memiliki karakter desain mobil Eropa yang bergaya, modern, dan elegan. Bodinya kompak sehingga parkir menjadi lebih mudah dan melaju di jalan raya menjadi lebih menyenangkan.

Splash menyandang mesin berkapasitas 1.200 cc, 4 silinder segaris, double overhead camshaft (DOHC), dan memiliki 16 katup (4 katup per silinder). Didukung pasokan bahan bakar injeksi, tenaga maksimum 83 PK pada 6.000 rpm dengan torsi maksimum 113 Nm pada 4.500 rpm.

Mobil ini menggunakan teknologi drive by wire sehingga kinerja mesinnya lebih akurat dan responsif. Ini didukung oleh adanya electronics control module (ECM). Tenaga yang dihasilkan menjadi optimal, tetapi tetap hemat dalam mengonsumsi bahan bakar dan ramah lingkungan. Emisi CO-nya rendah.

Splash dipasarkan dalam dua tipe, yakni tipe standar dan GL, masing-masing dengan lima warna. Perbedaannya sangat tipis karena tipe GL yang dibandrol seharga Rp 145 juta (on the road) hanya berbeda velg (alloy) dengan besar ukuran 15 inci, dilengkapi radio dan CD player plus empat speaker, serta USB dan iPod connector, ditambah pula alarm sebagai pengaman. Tipe standar dibandrol Rp 139 juta per unit.

Sumber: Kompas